Apa yang Keliru Dengan “Keislaman” Kita ?

Oleh SAEFUL MILLAH
Ketua ICMI Orda Cianjur 

(Tulisan ini merupakan materi yang disampaikan penulis pada kegiatan LK II (Intermediate Training) HMI Tingkat Nasional  yang diselenggarakan di Cipanas tanggal 24 Mei 2016)

Bahwa kebersihan itu adalah sebagian daripada iman, bahwa suap itu dilaknat Tuhan, bahwa praktik korupsi diharamkan dan seterusnya, semua umat Islam pastilah sudah memahaminya.  Pertanyaannya, mengapa selama ini banyak diantara kita yang masih sering membuang sampah sembarangan, masih mau melakukan korupsi, suap dan tindakan lain yang secara diametral berseberangan dengan keyakinan dan pemahaman kita ?.

Paradoks, itulah kesimpulan yang muncul ketika kita mau jujur mengakui kekeliruan dalam menjalankan praksis keberagamaan selama ini. Itulah pula kesimpulan yang muncul setelah menyimak hasil penelitian dua ilmuwan dari The George Washington University, Schehe S. Rehman dan Hossein Askari, dimuat dal;am Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press), volume 10 tahun 2010  dengan judul How Islamic are Islamic Countries?.

Dengan menggunakan pertanyaan dasar, sampai sejauh mana ajaran Islam itu dipahami serta  mempengaruhi sikap dan perilaku Muslim dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, hasil penelitian ini menyimpulkan: hampir seluruh Negara yang selama ini mendekalarasikan dirinya sebagai Negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya muslim, maka sikap dan perilakunya tidak banyak mencerminkan ajaran Islam yang dianutnya, paling tidak ketika berbicara dalam bidang ekonomi, keuangan, politik dan penyelenggaraan sistem pemerintahan.
Potret memprihatinkan 

Memang tidak seluruh aspek kehidupan sebagaimana banyak diatur dalam ajaran Islam itu dijadikan parameter untuk mengukur derajat keislaman (The degree of Islamicity) dalam penelitian ini. Namun, dengan menggunakan beberapa indikator pentingnya dalam bidang-bidang di atas. hasil penelitian ini lebih dari cukup sekadar untuk dijadikan bahan renungan bagi umat Islam dalam mengukur derajat keislamannya.  Lebih-lebih, semua parameter yang dijadikan indikator dalam penelitian ini dirumuskan menurut nilai dan ajaran Islam yang bersumber kepada Al Quran dan hadis.     

Bagaimana keadilan bisa ditegakan, bagaimana praktik korupsi, suap dan tindak kekerasan bisa dicegah, bagaimana kesejahteraan rakyat bisa diwujudkan, bagaimana angka kemiskinan bisa ditekan, bagaimana hak asasi manusia, termasuk hak kaum perempuan bisa dijamin, bagaimana hukum bisa ditegakan, sampai kepada, sejauh mana agama bisa memerankan dirinya dalam setting pergaulan global, adalah beberapa saja dari indikator keislaman yang dijadikan parameter dalam penelitian ini.

Tidak sampai di situ, karena yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini juga adalah bidang ekonomi, maka pembahasan tentang bagaimana praktik perbankan  berdasarkan etika atau ajaran Islam yang mengharamkan “bunga” itu dijalankan, bagaimana kejujuran ditegakan, bagaimana semangat dan etos kerja mereka dalam menjalankan bisnis dijadikan kebiasaan, sampai kepada bagaimana kontrak bisnis (akad) dilakukan, adalah beberapa indikator penting lain yang dijadikan parameter dalam penelitian ini.       

Hasilnya cukup menyentakan. Bayangkan, dari 208 negara yang disurvei, Selandia Baru, Luksemburg, Irlandia, Islandia, Finlandia, Denmark, Kanada, Kerajaan Inggris, Australia dan Nederlands, secara berturut-turut ternyata merupakan 10 negara  paling Islami. Bukan karena mereka beragama Islam, tetapi lebih oleh karena sikap dan perilakunya yang banyak mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Sementara 56 negara  yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) ternyata jauh berada di bawah derajat keislaman 156 negara lainnya yang non-muslim.

Persisnya, Malayasia berada pada posisi tertinggi, sebutlah Negara paling Islami, meskipun skor keislamannya hanya berada pada urutan 38 dari 208 negara, disusul Kuwait pada urutan 48, Bahrain (64), Brunei (65), Uganda (73), Jordania (77), Tunisia (83), Guyana (94), Mozambiq (96), dan Oman (99).

Indonesia sendiri yang merupakan negara paling banyak penduduk muslimnya di dunia hanya berada pada urutan ke 140. Sementara Arab Saudi yang selama ini sering dijadikan kiblat dalam melaksanakan syaraiat Islam ternyata hanya berada pada urutan 131. Ada pun negara berpenduduk muslim yang paling tidak Islami adalah Somalia yang berada pada urutan ketiga terbawah dari 208 negara yang disurvei.

Ada yang keliru
Memang, hasil penelitian ini masih sangat terbuka untuk didiskusikan, bahkan diperdebatkan. Yang pasti, kekeliruan itu bukanlah terletak pada ajaran Islamnya, melainkan lebih kepada masalah pemahaman dan pengamalannya.

Jangan-jangan, keislaman kita selama ini keliru karena  pemahaman dan praktiknya yang cenderung masih terlalu menekankan kepada dimensi ritualistik-formalistiknya, namun pada saat yang sama kurang memperhatikan dimensi moral dan substansinya. Implikasinya, apa yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-harinya tidak nyambung dengan pesan moral ibadah  yang sering dilaksanakannya   
Jangan-jangan pula, orientasi keislaman kita selama ini juga keliru karena fokus perhatiannya yang cenderung terlalu banyak diarahkan kepada semata menyoal urusan ketuhanan (teosentris), tetapi dalam waktu yang sama melupakan urusan yang di bumi - antroposentris. Padahal, Islam itu diturunkan Tuhan ke muka bumi ini tidak dimaksudkan agar manusia bisa mengurus diri-Nya, tetapi justeru agar manusia sibuk bisa mengurus sesamanya. Ada disorientasi!.
 
Jika dikaji, pastilah masih banyak faktor lain bisa diangkat untuk menjelaskannya. Namun, dengan itu saja cukup sekadar untuk menegaskan, bahwa ada yang jelas-jelas keliru dengan keislaman kita selama ini.

Itu sebabnya, upaya untuk memperkuat Indonesia yang mayoritasnya muslim ini sejatinya dimulai dari, dan diarahkan kepada upaya untuk menjawab persoalan di atas. Wallahu a’lam bish-shawab.     


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top