Calung Gentrawulung Sukses Mengocok Perut Penonton




MEMUKAU: Penampilan grup Calung Gentrawulung berhasil menghibur warga dan semua orang yang hadir dalam peresmian RSUD Pagelaran.


Ajak Masyarakat Lestarikan Seni Budaya Sunda
BUKAN sekedar mengocok perut setiap orang yang menontonnya, namun sebelas seniman Sunda yang tergabung dalam grup Calung Gentrawulung berasal dari Desa Jamali, Kecamatan Mande ini turut menanamkan pesan dan nilai-nilai luhur sambil melestarikan budaya khas tanah Sunda tersebut.

KEBUTUHAN masyarakat akan hiburan, seiring berjalannya waktu kerap berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Dahulu, kita sering disuguhi berbagai hiburan tontonan dengan menyaksikan berbagai aksi panggung secara langsung.

Kini, sudah semakin banyak orang yang berpindah dengan menikmati hiburan melalui layar kaca sehingga hiburan panggung kian terlupakan. Padahal, seringkali hiburan panggung memberikan kesan yang berbeda dalam setiap penampilannya. Terutama dalam membubuhkan nilai-nilai positif yang tak jarang mengena langsung dihati orang yang menyaksikan aksi panggung tersebut.

Hal itu pula yang mendasari grup Calung Gentrawulung secara konsisten menghibur masyarakat dari panggung ke panggung dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir. Kelompok seni tradisi sunda beranggotakan sebelas orang tersebut, beberapa waktu lalu menghibur masyarakat Pagelaran sekaligus sejumlah tamu undangan seperti Bupati Cianjur dalam gelaran peresmian RSUD Pagelaran.

Sontak, penampilan calung yang khas itu berhasil mengocok perut setiap orang yang menyaksikan aksi konyol mereka. Tak jarang pula kelakarnya diselingi pesan-pesan moral berkaitan dengan momentum saat itu.

"Ini bukti kalau sehat itu penting. Polisi tidak bisa melayani masyarakat kalau tidak sehat. Bapak TNI tidak bisa menjaga keamanan negara juga kalau tidak sehat," kata salah seorang personel calung dalam bahasa Sunda.

Sebelum melancarkan aksinya mengocok perut masyarakat, mereka terlebih dahulu memainkan alat musik calung, diiringi tarian dan alunan gendang pencak dengan sangat harmonis hingga membuat orang yang mendengarnya ingin ikut bergoyang.

Selepas itu, satu persatu anggotanya memperkenalkan diri. Mereka adalah Uup Supardi (40), Iyang Wahyudin (42), Ana Supriatna (30), Endih (50), Hamaludin (36), Ujun (57), Ujil (45), Ade (45), Unus (56), Wisnu (17) dan pimpinan grup, Ote Saputra (55). Calung Gentrawulung diketahui berasal dari Desa Jamali, Kecamatan Mande dan tergabung di Dewan Kesenian Cianjur (DKC). Penampilan mereka yang kurang dari satu jam itu lantas ditutup oleh tepuk tangan.

"Bukan sekedar manggung, tapi kita juga ingin melestarikan budaya kita, budaya sunda yang sudah banyak ditinggalkan," ujar Iyang Wahyudin saat diwawancarai usai manggung.

Tak hanya itu, masih kata Iyang, grup Calung Gentrawulung juga ternyata turut mewariskan seni, budaya dan tradisi tersebut kepada generasi-generasi muda. Hal itu terbukti saat salah seorang anggota mudanya, Wisnu yang masih berusia 17 tahun turut diperkenalkan.
"Perkenalkan Wisnu, anggota kami yang paling muda. Dia juga punya kecintaan terhadap budaya sunda. Mudah-mudahan saja seni calung seperti ini tetap lestari dan digemari anak-anak muda lainnya," harap Iyang sambil melanjutkan membereskan perlengkapan calung bersiap pulang ke kampung halamannya. (**)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top