Parpol Baru Dianggap tak Sesuai Harapan





CIANJUR – Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) baru-baru ini sudah membuka pendaftaran badan hukum bagi parpol baru. Seperti diberitakan sebelumnya, enam parpol baru, diantaranya Partai Rakyat, Partai Priboemi, Partai Idaman, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Beringin Karya, dan Partai Indonesia Kerja langsung mengajukan diri, memenuhi legalitas formal partainya. 

Verifikasi administrasi meliputi salinan akta notaris yang memuat data pendiri dan AD/ART partai, pernyataan nama lambang dan tanda gambar yang tidak menyamai partai lain, bukti rekening partai, hingga persyaratan kepengurusan di daerah di 34 provinsi, 75 persen kabupaten/kota, dan 50 persen kecamatan di seluruh Indonesia. Selain itu, ketentuan jumlah kantor wilayah maupun cabang wajib dipenuhi tanpa pengecualian. Rencananya, proses verifikasi dilaksanakan hingga Oktober 2016. 

Pengumuman kelolosan dilakukan sebulan kemudian atau November 2016.

Pakar Hukum Tata Negara, Dedi Mulyadi menilai, fenomena tersebut sudah dianggap sebagai hal yang lumrah, terlebih menjelang berbagai kontestasi politik yang rutin diselenggarakan di negara ini, seperti Pilpres, Pilgub, atau bahkan Pileg. Fenomena munculnya partai baru semacam itu, menurut Dedi, merupakan hal yang cukup menarik bagi segelintir kalangan.

“Partai tersebut memungkinkan mereka menarik konstituen yang sudah tidak percaya terhadap partai politik lama dan tidak kunjung menawarkan solusi. Karena itu, potensinya cukup besar,” papar akademisi Unuversitas Suryakancana Cianjur (Unsur) tersebut.

Masih kata Dedi. Menurutnya, bagi satu atau sekelompok orang yang dianggap memiliki kemapuan baik dari segi intelektualitas maupun finansial yang cukup, tidak dilarang untuk membangun sebuah partai politik. Selanjutnya, hanya bagaimana partai tersebut mampu meraih dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya.

“Kalau kita lihat kultur di Cianjur yang religius, untuk parpol yang berhaluan kanan masih bisa diterima masyarakat. Tapi untuk yang berhaluan sebaliknya, mungkin akan cukup sulit, ditambah setelah ada isu PKI beberapa waktu lalu,” imbuhnya.

Saat ditanya soal kemelut partai politik dewasa ini, sampai meningkatnya angka golput, dibarengi dengan bermunculannya calon-calon pemimpin yang memilih jalur non-partai alias independen, Dedi menilai hal tersebut sejatinya bisa dijadikan acuan partai-partai baru untuk menunjukan geliatnya. Terlebih, jika parpol-parpol baru tersebut mampu menarik minat para pemilih pemula yang potensinya sangat besar.

“Kalau mereka bisa menyusun platform yang sesuai dengan ekspektasi masyarakat, saya yakin, mereka akan bisa menunjukan geliatnya. Tapi dengan catatan, harus lulus verifikasi dari Kemekumham terlebih dahulu,” pungkasnya. (lan/jpnn)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top