Perjuangan Nining, Warga Kolaka Utara, untuk Bersalin, Ditandu selama Sembilan Jam, Harus Jalan Kaki 15 Kilometer


SALING MEMBANTU: Warga Desa Parutellang, Kecamatan Ngapa, Kabupaten Kolaka Utara, menandu Nining saat hendak mencari bantuan medis ke puskesmas. Foto atas,
Nining saat berada di rumah sakit.


Di daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki bidan dan tenaga medis, cara tradisional pun menjadi pilihan. Misalnya, yang dialami Nining, warga Dusun 6, Desa Parutellang, Kecamatan Ngapa, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara.

MUHAMMAD RUSLI, Kolaka Utara

Suara tangis memecah keheningan malam di Dusun 6 Desa Parutellang pekan lalu. Teriakan tersebut berasal dari rumah Rudi, 45, salah seorang warga. Ternyata, malam itu istri Rudi yang bernama Nining, 39, sedang mengalami kesakitan yang luar biasa saat melahirkan anak keduanya.

Bidan dan dukun beranak tidak ada di desa tersebut. Akses jalan menuju ke ibu kota kecamatan terjal, berbatu, dan tak bisa dilewati kendaraan roda empat. Layanan PLN pun belum masuk. Gelapnya malam membuat suasana semakin mencekam.

Tetangga Rudi yang rumahnya berjauhan mulai berdatangan. Mereka berharap Nining bisa melahirkan dengan bantuan ibu-ibu di desa tersebut. Namun, hingga fajar menyingsing, bayinya tak kunjung lahir. Anak itu terkungkung di dalam rahim ibunya.

Warga pun menyarankan Rudi agar membawa istrinya ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis. Sayang, perjalanan ke Puskesmas Ngapa harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 15 kilometer dengan medan jalan yang sangat memprihatinkan.

Meski demikian, semangat Rudi bersama warga tetap tinggi. Mereka pun sepakat membawa Nining ke Puskesmas. Nining ditandu dengan sarung dan sepotong bambu yang dipikul dua orang. Ada sekitar 30 warga yang siap memikul tandu bambu tersebut secara bergantian.

Mereka melewati jalan berbatu yang terjal dan licin. Mereka berangkat pukul 07.00 dan tiba di Puskesmas Ngapa sekitar pukul 16.00. Perjalanan 15 kilometer itu ditempuh dalam sembilan jam. 

Kegelisahan pun sempat menyelimuti Rudi dan warga karena Nining sempat mengalami pendarahan.

Mereka terus berusaha melewati jalan yang licin tersebut. Fisik perempuan 39 tahun itu tetap kuat meski rasa sakit tak lagi tertahankan. Setibanya di Puskesmas Ngapa, perawat yang bertugas tak bisa berbuat banyak. Mereka hanya memberikan pertolongan pertama dengan menyuntikkan infus kepada Nining. Pihak puskesmas kemudian menyiapkan surat rujukan agar Nining dibawa ke BLUD Djafar Harun untuk ditangani dengan lebih intensif.

Nining dibawa dengan ambulans. Untuk menuju rumah sakit berpelat merah di Kabupaten Kolaka Utara itu, mereka harus menempuh 70 kilometer. Namun, akses jalan sudah bagus sehingga hanya dibutuhkan 30 menit untuk sampai ke sana. Setibanya di rumah sakit, Nining pun langsung dirawat. Persalinan harus dilalui dengan cara caesar.

Perjuangan Rudi bersama 30 warga Desa Parutellang pun tidak sia-sia. Nining dan anak keduanya berhasil diselamatkan. Operasi berjalan sukses, meskipun sebelumnya sempat membuat panik warga.

 Sebab, hanya tersisa sekantong stok darah. Padahal, dibutuhkan dua kantong darah untuk melaksanakan operasi tersebut. Harus ada relawan yang bersedia menyumbangkan darahnya.

Untung, PMI Kolut segera merespons dengan mengutus anggotanya untuk mendonorkan darah di bank darah RS. “Akses jalan ke kampung kami masih terisolasi. Sepeda motor pun sulit melintas karena medannya terjal dan licin,” ujar Rudi saat ditemui di BLUD Djafar Harun Kolaka Utara Sabtu (28/5).

Kekompakan warga Desa Parutellang sangat membantu. “Kalau warga tidak menolong, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kami bergantian menggotong tandu bambu. Semua orang lemas saat tiba di tujuan,” tuturnya.

Hingga sore kemarin, Nining dirawat di BLUD Djafar Harun. Saat ditemui, Nining mengaku rasa sakitnya telah hilang. Operasi di perutnya hanya menyisakan sedikit rasa nyeri. Dia pun terlihat sehat. Senyum bahagia terlihat di wajahnya.

Nining tak banyak bercerita tentang ancaman maut yang dilewatinya. Namun, dia sangat bersyukur atas bantuan warga di desanya. Mereka diminta beristirahat untuk sementara waktu di rumah Kades Parutellang setelah keluar dari rumah sakit.

Kisah Nining merupakan salah satu contoh yang dialami warga Desa Parutellang, di mana mayoritas warganya berprofesi sebagai petani. (*/JPG/c5/diq)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top