Pasca Kejadian Eno, Masih Inginkah Kalian Berpacaran?



Akhir akhir ini, banyak sekali terjadi kasus pembunuhan, dan barangkali, kasus Eno Pariahlah yang mengilhami saya menulis, karena saya anggap sebagai kejadian yang paling sadis dan paling biadab. Bagaimana tidak? Jika gadis itu diperkosa dahulu, lalu dibunuh (maaf) dengan cara memasukkan gagang cangkul itu melalui alat vitalnya hingga tembus ke paru-paru.

Kejadian nahas ini bermula saat Rahmat Alim alias RA  (15 tahun) kekasih korban, memasuki mes karyawati PT Polyta Global Mandiri di Desa Jati Mulia, Kosambi, Tanggerang, pada Kamis malam 12 Mei 2016. Di kamar itu Eno sudah menunggu RA. Mereka juga sempat bercumbu, namun beberapa saat kemudian RA keluar kamar dengan marah dan kesal, sebab Eno tak mau diajak berhubugan badan.

Di luar RA bertemu dengan Rahmat Arifin dan Imam Hapriadi. Dua lelaki yang baru saja dikenal RA tersebut adalah korban cinta bertepuk sebelah tangan dari Eno. Eno sesosok gadis pujaan di tempat kerjanya. Karena berbagai dendam masing-masing pada mereka, akhirnya ketiga lelaki ini sepakat masuk ke kamar Eno. Singkat cerita Eno dibekap oleh tiga lelaki tak bermoral ini. Pada saat itu Arifin memperkosa Eno, sedangkan RA keluar mencari alat untuk membunuh Eno. Imam juga sempat melukai wajah Eno dengan garpu. Hingga RA akhirnya membawa cangkul, yang kemudian Arifin dengan kesetanan (maaf) menusukkan gagang cangkul itu ke alat vital Eno sampai tembus ke paru-paru.  Ini adalah kejahatanan yang luar biasa, di luar batas kemanusiaan, dan pembunuhan paling biadab di negeri ini. Apa motif si Arifin menusukkan  gagang cangkul tersebut? Bukankah sebelumnya ia juga memperkosanya? Tidakkah puas birahi syetannya itu setelah memperkosa Eno?
Kejahatan pemerkosaan sekaligus pembunuhan berencana ini harus ditindak dengan serius oleh pihak yang berwajib. Nah untuk RA sendiri karena faktor usia, mungkin ada undang-undang berikutnya untuk hukuman anak-anak diturunkan lagi, yang sebelumnya sampai 18 tahun, mungkin bisa 14 tahun atau 15 tahun. Sebab RA sendiri yang usianya masih muda tersebut kejahatannya sangat luar biasa. Tak layak lagi disebut kejahatan anak-anak.

Kasus pemerkosaan selama ini di Indonesia sepertinya tidak memberikan efek jera di tengah-tengah masyarakat. Kasus pemerkosaan bukan makin berkurang, namun semakin marak terjadi. Apakah perlu hukuman mati bagi pemerkosa beserta pembunuhan berencana diberlakukan di Indonesia? Jika ini adalah solusi terbaik untuk menyelamatkan anak-anak kita dari kejahatan luar biasa dari manusia bejat, kenapa tidak?! Presiden terpilih Filipina, Rodgrigo Duterte saja berjanji untuk memperkenalkan kembali hukuman kerasnya dan izin kepada pasukan keamanan untuk "tembak mati" dalam memberantas kejahatan. Ini menunjukkan betapa negara lain serius menindaklanjuti kejahatan di negarnya. Selama ini para pemerkosa dan pembunuh di negr kita bisa bebas setelah mendekam beberapa tahun di penjara.

Nah, si korban harus mendekam seumur hidup dalam trauma kepanjangan. Bahkan tak jarang pula korban juga dibunuh oleh para para pemerkosa. Pemerintah juga harus bertindak tegas terhadap perfilman dan situs yang memuat unsur pornografi dan kekerasan. Khususnya audiovisual yang sangat memicu kejahatan pemerkosaan yang terjadi. Begitu juga dengan perusahaan dan toko-toko yang menjual minum-minuman keras harus ditindak  dengan segera. Ini semua demi kebaikan putra-putri kita semua. Bukankah banyak juga kasus pemerkosaan karena akibat minuman keras? Pemerintah seharusnya bisa belajar dari kasus-kasus sebelumnya.

Nah, untuk anak anakku pelajar dan mahsiswa , berhati-hatilah berteman dengan siapa pun. Tidak perlu pacaran, atau lain sebagainya. Karena kasus Eno ini adalah dampak dari pacaran. Jaga kehormatan diri, sayangi diri sendiri. Berbuatlah yang wajar saja. Jika masih sekolah atau kuliah, belajarlah yang serius untuk menggapai impian. Dan jika sudah bekerja dan usia matang, maka menikahlah, itu adalah anjuran yang sangat baik sebagai  kehormatan bagi seorang perempuan.

Selaku orangtua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak tercinta kita ini, selidiki dan awasi terus pergaulannya. Dengan siapa dia bergaul setiap harinya. Jangan sampai sebagai orangtua tidak tahu menahu tindak-tanduk anaknya di luar sana. Ajarkan pula pendidikan agama sebagai bekal kepada anak-anak kita dalam pergaulannya, dan sebagai pegangan hidupnya. Semoga saja atas kasus kejahatan paling biadab ini bisa mengajarkan pada kita semua untuk lebih ekstra lagi menjaga anak, adik, atau saudari-saudari kita.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top