FPI Siap Serang Geng Motor


* Terkait Penganiayaan Terhadap Tiga Santri
FOTO : ISTIMEWA

CIANJUR-Aksi pemukulan terhadap sekelompok santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Alawiyyin oleh dua orang tak dikenal pada Jumat (26/8) malam pukul 00.30 WIB di wilayah Jalan Oppo, Kecamatan Cianjur, berbuntut panjang. Saat ini pihak pesantren dan Front Pembela Islam (FPI) Cianjur tengah melacak pelaku.

Pihak pesantren sudah melakukan visum terhadap tiga orang korban yang juga santri ke Rumah Sakit pada Sabtu (27/8) kemarin. Mereka diantaranya, Fahmi (21), Robi (14) dan Sofa (21). "Kami dan Forum Ponpes Cianjur, sepakat dan meminta pada Kepolisian dalam kurun waktu 2x24 jam untuk segera mengusut tuntas dan menangkap pelakunya,” kata Sekretaris FPI Cianjur, M Shidiq Permana, saat ditanya perihal perkembangan kasus pemukulan terhadap santri di Cianjur.

Menurutnya, setelah selesai melakukan visum, pada malam harinya ia pun langsung melaporkan perihal peristiwa itu pada pihak Polres Cianjur.Nah pihaknya mengancam bila tidak ada pergerakan dan hasil dari pihak kepolisian atas pelaporannya, maka FPI bersama Forum Santri se Cianjur akan melakukan sweeping terhadap geng motor yang meresahkan warga. "Kita mengharapkan agar kepolisian dapat menangkap pelaku sesegera mungkin. Bila tidak seperti itu, akan terjadi pergerakan santri untuk menyerang balik kepada geng motor di Cianjur," kata Shidiq.

Karena itu, FPI mengharapkan kepada Bupati, Kapolres, serta Komandan Kodim 0608 Cianjur, untuk memberlakukan jam malam di Cianjur. Hal itu untuk mengantisipasi pergerakan geng motor yang biasanya membuat ulah dan meresahkan di malam hari.

Selanjutnya, pemberlakuan Peraturan Daerah (Perda) mengenai Minuman Keras (Miras) yang secara tegas dan menyeluruh harus ditegakkan dan dibersihkan. "Sebab perilaku dan perbuatan yang berujung kriminal, kebanyakan dampak dan efek dari Miras. Maka dari itu, pemerintah wajib untuk mengembalikan Cianjur sebagai kota santri seutuhnya," tutup Shidiq.

Senada diungkapkan, Pimpinan Ponpes Al-Alawiyyin, KH Dagus Abdurohman yang meminta kepada jajaran pemerintah dan kepolisian di Kabupaten Cianjur untuk berkewajiban menjaga stabilitas keamanan bagi warganya. "Jadi tidak ada alasan bagi pemerintah untuk membiarkan masalah ini, kasus seperti ini bukan lagi masalah regional, tapi sudah menjadi isu nasional.

Penangannya harus seluruh komponen pemerintah dan keamanan yang turun tangan,” ujar Dagus.
Ia menambahkan, jangan sampai masyarakat menjadi arogan dengan masalah seperti ini. Jadi ia memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada pemerintah dan aparat kepolisian untuk menanggulangi hal tersebut, baik pencegahannya maupun penindakannya.

"Dalam hal ini kami masih punya rasa percaya kepada pemerintah dan aparat untuk menangani hal-hal seperti ini. Tidak harus turun dari masyarakat, karena sudah kewajiban Negara dan seluruh komponen-komponennya untuk menindaklanjuti masalah ini," harapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, 12 santri Ponpes Al-Alawiyyin menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang tak dikenal pada Selasa dini hari. Korban masing-masing bernama Robi (14), Jaka (13), Sofa (21), Fahmi (21), Arif, Akeu, beserta enam santri lainnya di kawasan Karangtengah.

Mereka menjadi bulan-bulanan dua orang pelaku yang tak diketahui identitasnya itu. Salah seorang korban, Jaka menuturkan, mereka yang saat itu beriringan menggunakan enam sepeda motor kala itu dicegat oleh dua orang tak dikenal. Kedua pelaku nampak menyalip rombongan layaknya begal lalu mencegat sambil mengayunkan stik bisbol yang terbuat dari besi ke arah mereka.

Akibatnya, dua orang mengalami luka serius, lima orang mengalami luka ringan dan sisanya tak mendapat serangan. Salah seorang korban, Robi mengalami luka parah di bagian kepala. Robi harus mendapat sepuluh jahitan di kepalanya, bercampur dengan luka memar di bahu akibat pukulan benda tumpul. Selain Robi, korban lainnya, Fahmi mendapat kurang lebih delapan jahitan. Mereka hingga kini masih ditangani di klinik Ponpes Al-Alawiyyin.

Korban menyebutkan, ciri-ciri salah satu pelaku berbadan tinggi, berkulit hitam, memakai anting magnet warna hitam di telinga bagian kiri, mengenakan baju warna putih dan memakai topi bergambar payung terbalik. Sedangkan satu pelaku lagi sebagai pembawa motor, tidak terlalu jelas karena pakai helm dan jaket hitam. Plat nomor motornya tidak kelihatan karena gelap. Namun pelaku diduga memakai motor Suzuki Satria FU warna hitam merah, knalpot racing dan tidak ada besi pegangan di belakang joknya.(yud)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top