Kemajuan Teknologi Perkental Budaya Tawuran



CIANJUR-Maraknya tawuran di Cianjur antar pelajar SMK yang kian panas dalam setiap kejadiannya. Membuat banyak segelintir orang yang menyimpulkan hal tersebut sebagai budaya para anak SMK di Cianjur.

Guru Kesiswaan SMK PGRI 3 Otomotif Cianjur, Lala Maulana mengungkapkan perihal mulainya aksi tawuran antar pelajar SMK di Cianjur ini. “Terjadinya bentrok antar murid SMK di Cianjur, kaya SMK PGRI III, SMK Ar-Rahmah, SMK I Cilaku dan lainnya, mulai pada saat tahun 1999,” ujarnya.

Pasalnya, ketika tahun 1998 terakhir belum ada satupun antar murid SMK di Cianjur ada tawuran atau ribut-ribut seperti sekarang ini. Soalnya pada saat itu murid SMK yang satu dengan murid SMK lainnya masih bisa silaturahmi dan berkunjung kepada SMK lain.

“Pada tahun 1999 pun memang sudah mulai terjadi bentrok, tapi bentrok kecil seperti sparing-sparing berantem kecil. Saat itu tidak pernah ada yang membawa alat atau senjata tajam, malah dengan tangan kosong,” tuturnya.

Namun pada tahun 2000 setelah reformasi, bentrok atau tawuran dengan senjata mulai terjadi di Cianjur. Kalau tidak salah menurutnya, tawuran memanas itu pada tahun 2001. Ketika salah seorang siswa SMK I Cilaku yang ditarik dari angkot oleh murid SMK lainnya yang menyebabkan murid tersebut jatuh dan terkena bahu jalan, sehingga menyebabkan korban meninggal.

“Hal ini berkelanjutan di Cianjur dan ada beberapa SMK yang menjadi perhatian. Seperti pada tahun kemarin, ada korban tawuran hingga meninggal. Pertama korban dari SMK Ar-Rahmah yang berjumlah tiga orang dan dari SMK kita pun ada satu orang,” kata Lala.

Ia pu heran, mengapa murid-murid di beberapa SMK di Cianjur kelakuannya seperti pada zaman
primitif. “Murid yang sedikit ini dibuli sama yang banyak, itu di Cianjur. Berbeda dengan halnya Bandung, walaupun berbeda atribut atau identitas SMK, tapi di bis itu tidak menjadi masalah,” keluhnya.

Maka dari itu, identitas SMK di Cianjur sekarang dihilangkan dan ia mengajak untuk bersama-sama
menyelesaikan permasalahan tawuran yang tiada hentinya sampai saat ini. Seperti yang ia
katakan, bahwa kemajuan teknologi amat jelas berpengaruh sekali terhadap siswa.

“Dengan adanya HP, sekarang murid-murid ini bilamana mau tawuran suka SMS-an dan janjian tempatnya. Akan tetapi ada yang uniknya, ketika anak-anak itu sendiri dan melihat banyak anak-anak dari sekolah lainnya banyak, ia tidak mau berantem dan merasa takut dengan kabur,” ungkap Guru Kesiswaan SMK PGRI 3 ini.

Selain teknologi, yang merupakan sebuah mobil angkutan yang mengangkut banyak murid menjadi penyebab tawuran juga. Soalnya abudemen ini menurutnya, mengangkut para murid yang akan menuju lokasi tawuran yang mempunyai kapasitas banyak.


“Kita prihatin atas hal itu dan tidak adanya abudemen itu bagusnya. Pernah ditemukan juga saat rombongan murid berkelompok menaiki abudemen yang saat itu kita razia, minimal menemukan sebuah gir motor yang memakai tali. Lebih ngeri lagi bawa senjata tajam seperti corbek yang merupakan senjata yang amat besar untuk melakukan perang,” terangnya.(yud)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top