Mengintip Pembangunan SRG di Haurwangi Dana Rp3 Miliar, Rusak Fasilitas Kantor Kecamatan

FOTO: MAMAT MULYADI/ RADAR CIANJUR
DIKELUHKAN: Keberadaan an aktifitas SRG di Haurwangi menuai keluhan dari masyarakat dan pemerintah kecamatan.


PEMERINTAH Kecamatan Haurwangi merasa kesal dengan proses pegerjaan pembangunan kontruksi Sistem Resi Gudang (SRG) yang berlokasi di belakang Kantor Kecamatan Haurwangi. Aktifitas yang dikerjakan PT Putra Kujang Semesta Cianjur sebagai pengembang melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) angkanya mencapai Rp3,7 miliar lebih. Pihaknya menilai pembangunan dilakukan pengembang kurang pro aktif membuat naik pitam aparatur kecamatan.

Laporan : MAMAT MULYADI, Haurwangi

SEPERTI halnya disoroti Rafli (43), warga Desa Haurwangi diamani beberapa rekannya menuturkan, ada persoalan pagar tembok di depan kantor kecamatan. Paling tidan, sedikitnya perlu ada papan reklame (plang) lembaga dan organisasi masing-masing diantaranya plang PKK, Darmawanita, PPAT dan plang Korpri dibongkar pihak pengembang sampai dijadikan jalan untuk keluar masuk kendaran proyek, disertai WC milik kecataman tak terawat kebersihannya alias kotor.

"Setelah membongkar pagar tembok untuk dijadikan jalan keluar masuk kendaraan proyek tak ada pembenahan tanggungjawab," akunya kepada wartawan ini.

Pihak kecamatan berharap, pihak pengembang ada itikad baik dan koordinasi. Sehingga permasalahan tersebut secepatnya dituntaskan. Apalagi saat ini jelang menghadapi HUT Kemerdekaan RI ke-71 karena akan ada rencana menggelar berbagai perlombaan memeriahkan HUT Kemerdekaan di lingkungan kantor kecamatan.

"Maka itu segera ada pembenahan dari pihak pengembang, dan bisa menghubungi pihak kecamatan. Jelasnya, ada itikad baik dulu pakai etika," beber Kohar Effendi (50) warga lainnya.

Hal senada dikatakan, Camat Haurwangi, Ajat Sudradjat. Pihak pengembang telah membongkar pagar tembok dan membongkar papan nama diantaranya itu plang PKK, Darmawanita, PPAT dan papan nama Korpri. Semua itu telah beberapa kali diperingatkan supaya segera diperbaiki dan papan nama kelembagaan segera dipasang. Eh,ternyata  hingga kini masih juga belum ada realisasinya. Nah, disamping itu mengenai jamban (WC) Mushola digunakan seluruh para pekerja proyek, bukannya tak boleh untuk dipakai.

"Tapi itu harus saling menjaga kebersihan dan menghargai. Nah, jangan sampai terjadi seperti sekarang tanah terangkat dari sandal, dan sepatu berceceran di lingkungan WC (toilet). Hingga sampai beberapa aparatur selalu membersihkannya, hingga dibuat jengkel. Kantor kecamatan kotor dan kumuh, apalagi sekarang menghadapi HUT RI, dan akan ada beberapa lomba digelar rencananya di kecamatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan," harap Djadjat.

Terpisah, senada hal lain dikatakan wakil pelaksana proyek pembangunan SRG, Satibi (63) menjelaskan, memang benar pihak pengembang telah membongkar pagar tembok depan kantor kecamatan, dijadikan jalan untuk keluar masuk kendaraan proyek mengangkut material.

"Pihak kami sebelumnya telah berkoordinasi dan menghubungi pihak kecamatan, bahkan pencopotan bukan dibongkar telah sediktinya da empat plang reklame milik beberapa lembaga atau organisasi sudah minta restu atau izin dulu," terangnya.

Sambung dia, apa yang menjadi persoalan ini nanti akan secepatnya untuk melaporkan pada pelaksana dan pihak pemilik PT. Supaya segera diperbaiki dan segera dipasangkan kembali empat papan nama lembagaan tersebut. Mengenai kebersihan lingkungan jambah (WC) milik kantor kecamatan, akan segera disampaikan pula pada seluruh pekerja proyek.

"Sehingga soal kebersihan lingkungan bisa terjaga kebersiahannya, semua keluhaan membuat kesal nanti akan segera dilaporkan kepada pengawas proyek atau langsung ke pihak pemilik proyek," beber Saribi.(**)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top