Penyesalan Saiful Rizal Ikut Tawuran Pelajar Warisan Turun Temurun, Merugikan Masa Depan



TAWURAN pelajari masih kerap menghantui para generasi penerus bangsa ini. Siswa yang seharusnya menjadi harapan bangsa malah terlibat kekerasan. Tak jarang korban meninggal dunia pun berjatuhan.

Laporan : M SUYUDHI

SAIFUL Rizal, salah satu pemuda yang merasakan penyesalan, tatkala saat menjadi siswa, kerap mengikuti tawuran. Bahkan, alumni SMK PGRI 3 Cianjur ini pernah kehilangan kerabat dekatnya saat bersekolah akbiat perkelahiaan dan tawuran antar SMK di Cianjur.

Pria yang kini berusia 22 tahun ini, menceritakan ketika ia dulu bergelut di pertempuran perang antar sekolah. “Dulu tawuran jadi warisan turun temurun,” kata Rizal menceritakan kisah masa sekolah.
Sekolah yang jadi musuhnya yakni sekolah Nazi. Dirinya pun kerap dipukuli kelompok Nazi, “Saya waktu itu belum mengetahui SMK mana saja yang menjadi musuh. Tapi setelah kejadian itu, saya jadi tau mana saja musuh dari sekolah saya selain dari nazi,” paparnya ketika ditemui di kediamannya di Kampung Kopem, Kelurahan Sawah Gede, Kecamatan Cianjur.

Rizal dan temannya mengikuti tawuran atas dasar tekanan dan ajakan dari seniornya, yang sering mengatakan dan membuat sebuah pandangan senior terhadap juniornya. Bilaman tidak ikut, ia bahkan teman lainnya sering disebut dengan perkataan ejekan yang dilontarkan seniornya, misalnya culun dan tidak ada keberanian. “Namanya juga pengen tenar, akhirnya saya membuat janjian dengan Stekmal di daerah Raped Jangari. Dimana rencananya mau duel satu lawan satu, ternyata Stekmal pengen tawura. Ya terpaksa kita lawan lah,” ujar Rizal ketika menceritakan perang dengan cara berjanjian lebih dahulu.

Para murid yang akan melakukan tawuran sering menyiapkan alat-alat perangnya terlebih dahulu, dianataranya.  Misalkan cerulit, samurai, regaji besar, kalewang, gobang dan gir motor. “Selama tawuran, perang yang paling hangat di Cianjur, yaitu the bigpot. Istilah the bigpot ini SMK yang ditakuti di Cianjur, seperti Stekmal, Oto, Nazi dan AMS,” terang perihal SMK di Cianjur yang sering terjadi tauran keras.

Tempat-tempat yang sering dijadikan tawuran antara lain Cikidang, Pamoyanan dan Santiong. Dimana menurut pengakuan, pernah terjadi kematian kepada temannnya saat daerah Cikidang. 
“Pernah diserang sama AMS waktu itu, salah satu teman saya meninggal akibat terkena cerulit di bagian samping pinggangnya,” imbuhnya saat bercerita temannya yang pernah menajdi korban.


Sebagai orang yang pernah merasakan kelamnya masa sekolah, Rizal menyesal akan kelakuannya dulu. “Saya mengharapkan buat anak-anak SMK atau yang sering ikut tauran, semoga pikirannya lebih jernih sebab nanti kerasa. Itu semua merusak masa depan,” tutup Rizal dengan harapannya kini.(yud)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top