“BLUEPRINT KEBIJAKAN BUPATI ANYAR”

Penulis Sunyi : Yadi Jayadi

(Penulis Bergiat : Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN SGD BDG & Guru DTA Mitra Muhajirin Bandung)

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cianjur pada 22 Januari 2016 lalu telah megumumkan telah terilihnya Bupati dan Wakil Bupati Baru Kab.Cianjur setelah keduanya memenangi Pilkada serentak 2015, 396 hari Kab.Cianjur di pimpin dan dikelolah dengan pemimpin baru.
Harapan pun muncul dari masyarakat dengan terpilihnya bupati dan wakil bupati anyar, untuk memberikan kesejahtraan bagi masyarakat banyak.
Namun dengan kurun waktu 396 hari ini (06/02/2017) mungkin ini terlalu dini untuk melakukan koreksi terhadap pemerintahan Kab.Cianjur, tapi saya rasa tidak demi kesejaahraan dan keadilan masyarakat banyak kritikan ini perlu untuk mengontrol kinerja Pemerintahan Anyar ini untuk lebih baik lagi dan mementingkan kepentingan Rakyat banyak diatas segala-galanya.
Dengan berjalannya waktu, kebijakan demi kebijakan dikeluarkanlah oleh Pemerintah Kab.Cianjur, ketika saya menganalisa ada beberapa kebijakan yang kontroversial dan membuat rakyat kebingungan, diantaranya Selogan yang sekarang gencar di kumandangkan pemeritah Kab.Cianjur yakni “CIANJUR JAGO” yang pada mulanya “Cianjur Jago” ini Nama gelaran dalam festival pada Hari Jadi Cianjur (HJC) ke 339 yang jatuh pada 12 Juli 2016 tahun lalu, asal mulanya "Nama gelarannya yaitu “70 ribu detik Cianjur Jago Festival”. Namun pada kenyataanya Cianjur Jago menjadi selogan yang baru untuk Kab.Cianjur ini.
Entah apa yang menjadi motiv pemerintah Kab.Cianjur menyuarakan Cianjur Jago, apa kaitannya dengan kampanye sebelumnya yang mengusung “AGAMIS” apa korelasinya dengan “CIANJUR JAGO” yang nyata-nyatanya Cianjur Jago adalah nama dari tema festival yang diselenggarakan pada 12 Juli 2016 tahun lalu bertepatan dengan Hari Jadi Kab.Cianjur (HJC) ke 339. Banyak komentar dan kritikan terhadapa Pemerintah Kab.Cianjur banyak masyarakat yang kurang setuju dan tidak mengetahui  apa motiv-nya dengan Jargon “CIANJUR JAGO”.
Tidak terhenti dari jargon “CIANJUR JAGO’ dan yang menyita perhatian kita dari penataan ruang diantaranya di tamaninya “POHON KELAPA” di sepanjang jalan Sala kopi dan By Pass, entah apa maksud dan tujuannya. Seperti dilansir salah satu media (pojok jabar.com/cianjur/2016/10/09/) Terbilang unik saat masyarakat CIanjur melintasi ruas jalan di Kota Cianjur, Bypass. Ruas jalan menuju akses Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kabupaten Cimahi ini dipenuhi dengan 120 pohon kelapa di bagian tengah badan jalan. Pada umumnya, pohon atau tanaman yang digunakan pada bagian tengah jalan merupakan pohon cemara atau palem. Keunikan dan tanda tanya besar ini pun menuai perhatian dari sejumlah pengendara. Banyak warga khawatir, apabila sudah besar dan berbuah,  ditakutkan akan jatuh menimpa kendaraan dan mengancam keselamatan di ruas jalan Bypass.
Akhir-akhir ini masyarakat mengaku keberatan Pemkab Cianjur Akan Pangkas Jamkesda Pemangkasan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) melalui Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) akan tetap dilakukan oleh Pemkab Cianjur, ini menuai tanggapan masih menimbulkan gejolak, terutama bagi masyarakat prasejahtera. Sejumlah aksi penolakan pun beberapa kali terjadi di Cianjur. Dan masih banyak problematika yang masih belum diselesaikan di pemerintahan Kab.Cianjur (Kasus Korupsi Dana Bantuan Sosial, TKW Ilegal, Dunia Pendidikan dan Pergaulan Remaja yang menyimpang (LGBT)). Sejauh manakah peran pemerintah dalam mensejahtrakan masayarakat banyak atau cenderung acuh-acuh saja.
Lantas akan adakah kebijakan-kebijakan yang lain lagi yang membuat masyarakat geleng kepala dalam pembagunan dan penataan ruang di Kabupaten Cianjur, dan saya mendengar adanya isu PEMEKARAN CIANJUR UTARA mungkin ini salah satu bentuk kekecewaan dan ketidak adilan-nya dari Pemerintah Kab.Cianjur hari ini.
Senin 06 Februari 2017
Penulis Sunyi : Yadi Jayadi


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top