BOX : Mengetahui Bisnis Toko Buku di Masjid Agung Cianjur


Masih Diganduringi, Tidak Pernah Sepi Pembeli

BISNIS- Buka usaha toko buku ternyata masih digandrungi sekaligus diminati berbagai kalangan, tak peduli dunia internet begitu merajalela. Seperti halnya, salah satu toko buku di Mesjid Agung Cianjur, menyediakan berbagai macam buku ilmu pengetahuan, novel, kitab klasik karangan Ulama kalangan Salafushalih dan Al-Quran tak pernah sepi dari pembeli.

Laporan : MAMAT MULYADI/ Cianjur.

Salah satu pengelola toko buku Mesjid Agung, Ririn Safrina mengatakan, dirinya serta dua orang rekan kerjanya selalu menerima pembeli dari berbagai usia. Mulai dari anak sekelas taman kanak-kanak (TK), remaja, orang deawa hingga orangtua. Misalnya, untuk saat ini novel cerita islam paling digemari sejumlah anak TK.

"Harus dibiasakan rajin membaca buku sejak dini, sehingga bisa tumbuh tertanam dalam diri hingga dewasa. Tentunya, untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan," tuturnya, kepada Radar Cianjur, Rabu (22/2).

Ririn menambahkan, dari semua yang disediakan toko buku yang dikelolanya Al Qur'an adalah yang paling sering dibeli oleh pengunjung. Setelah itu baru buku jenis novel, kitab klasik dan lainnya. kebetulan, selain pemilik dari toko buku ini, sekaligus sebagai pengelola wakaf Mesjid Agung.

"Ya, kami bertiga sebagai operasional toko, nanti sistem pengelolaan mengenai penghasilan itu nanti diatur oleh pengelola wakaf,"

Pihaknya menyebutkan, kertersedian berbagai jenis buku yang ada ditoko ini merupakan hasil dari kerja sama langsung dengan penerbit baik itu yang penerbit dari Jakarta, Bandung atau dari daerah lainnya. Makanya, buku disediakan selalu diusahakan 'Up Date' sesuai kebutuhan masyarakat.

Dilain pihak, dikatakan, Muhammad Rizki (19) seorang mahasiswa jurusan Tarbiyah disalah satu Perguruan Tinggi Islam di Cianjur, menambahkan. Dirinya akan terus bersandar kepada buku, karena merasa bahwa buku adalah sumber ilmu, bisa dipertanggungjawabkan.

"Baik itu, penerbitnya jelas dan penulisnya juga jelas. Kami, sebagai mahasiswa tentu butuh kejelasan seperti itu," akunya.

Masih diutarakan, Rizki. Ia merasa riskan, apabila kajian keilmuan yang ditugaskan dosennya bergantung pada informasi dari internet. Sementara, untuk menyerapan ilmu diterima itu terkadang tidak jelas sumbernya darimana, apalagi melalui berbagai media sosial.

"Nah, orang awam saja entah siapa dia gayanya ibarat lebih menyerupai pemikiran seorang profesor," tandasnya.(**)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top