Bunga Lokal Kurang Bergairah


CIPANAS-Sejumlah petani tanaman hias di Cipanas, Pacet, dan Sukaresmi lebih menggemari varietas dari luar daerah maupun luar negeri, dibanding potensi lokal. Hal itu dikarenakan selain lebih berkualitas, varietas luar negeri lebih diminati.

Konsultan Tanaman Hias Cipanas, Purwanto menjelaskan produk tanaman hias di kawasan Cipanas saat ini merupakan persilangan tanaman hias tropis dan dilakukan langsung petani di lahan pertanian.
"Untuk sumber benih yang dikembangkan asalnya dari luar negeri lalu diperbanyak di lahan masing-masing," singkatnya.

Menurutnya, produk tanaman hias silangan ini menjadi unggulan karena jenisnya beragam, lebih banyaknya yakni hasil garapan mandiri dan disesuikan dengan kondisi geografis.

"Untuk produk tanaman hias produk lokal sendiri kecendrungan petani tidak ada yang membudidayakannya karena kebanyakaan dari jenis kembang dan bunga potong saja," tuturnya.

Tambahnya, jenis tanaman hias lokal kurang begitu diminati oleh petani dengan alasan beragam faktor, seperti kualitas warna, produk, dan lebih unggul produk tanaman hias luar yang dibudidayakan sendiri.

“Petani tanaman hias sangat banyak dan potensial di Cipanas, Diharapkan pemerintah bisa mendukung pegembangan produksi dan pemasaran, sehingga produknya bisa lebih memajukan petani kembang hias,” jelasnya.

Badan penelitian tanaman hias (Balithi) Segunung, Dwi Nugroho mengungkapkan, kawasan Cipanas sangat strategis sebagai daerah dataran tinggi sehingga sangat potensial menjadi lokasi pengembangan tanaman hias.
"Diantara tanaman hias meliputi kembang dan bunga potong, tanaman hias pot, landscape, dan tanaman daun," terangnya.

Menurutnya, kebanyakan tanaman hias yang dibudidayakan oleh petani lokal secara mandiri merupakan jenis tanaman hobi dan berfungsi memiliki nilai jual ekonomis. Maka dari itu, pihaknya terus melakukan upaya inovasi dengan mengenalkan produk desiminasi baru kepada kelompok tani tanpa ada keuntungan.

"Amat disayangkan petani terbilang kurang mengapresiasi akan sumber benih yang dikembangkan pihak BALITHI," ujarnya.

Padahal, berdasarkan data Jabar sebagai penghasil terbesar bunga potong 50 persen di Indonesia, antara lain dari wilayah Cianjur, Bandung dan Sukabumi. Tentunya walaupun dicuekin sebagian petani, ini menjadi motivasi Balithi untuk berupaya mengembangkan varietas bernilai jual yang dapat dibudidayakan petani dan masyarakat.

“Kami berharap para petani bisa maju dan kami akan terus melakukan penelitian sebagai upaya mengembangkan varietas unggul,” pungkasnya.(mg1)

Bunga Lokal yang Kian Layu
-Petani lebih menggemari varietas dari luar daerah maupun luar negeri
-Bunga Lokal kurang berkualitas
-Kualitas warna, produk, dan lebih unggul produk tanaman hias luar yang dibudidayakan sendiri.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top