Listrik Diputus, Dana BOS Kemana? Warga Pertanyakan Manajeman Sekolah




KARANGTENGAH- Sejumlah warga dan orangtua siswa pertanyakan sistem pengelolaan keuangan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) manajeman MTs Babakancaringin, dibawah Yayan Al-Ghozali, Kecamatan Karangtengah. Seperti halnya, listrik tiga bulan diputus (tidak menyala), soal iuran kaos olahraga sekitar Rp70 ribu, dan mengenai pesanan kursi dan bangku (mebeler.red).

Salah satu warga setempat, Pangga M (35) mengatakan, sangat menyayangkan dan merasa prihatin tentunya selaku warga setempat. Harusnya, sekolah sudah lama berdiri ada peningkatan. Tapi, kenapa sepertinya tidak ada perubahan alias jalan ditempat. Keluhan dari sejumlah orangtua siswa dan warga mengenai listrik katanya diputus, karena belum bayar. Sebetulnya, bukan itu saja permasalahannya. Ada beberapa sorotan lainnya, melihat kondisi sekolah masih berlum ada pembenahan melalui pembangunan.

"Memang, kalau dana BOS tidak boleh untuk pembangunan rehab total, tapi kalau ada hal kerusakan rehab kecil-kecilan harusnya selaku Kepala Sekolah (Kepsek) itu pro aktif bisa membenahi internal dapur sekolah," tuturnya, kepada Radar Cianjur, Rabu (22/2).

Hal lain diutarakan, Harmaen (47) warga setempat dan Maman (45) dua warga setempat menambahkan, mengenai ketua komite juga tidak jelas bagimana, selain soal pengelolaan anggaran dana BOS. Wajar kita mempertanyakan soal dana tersebut, karena peruntukannya untuk kesejahteraan sejumlah guru dan manajeman sekolah.

"Kita bukannya menuding, tapi ingin dan berharap sekolah ini bisa maju dan berkembang secara berkesinamungan. Jangan sampai kalau sama sekolah lainnya ada di Kecamatan Karangtengah. Pasalnya, sekolah ini sudah cukup lama berdiri dan paling tua bisa dikatakan," ujarnya.

Sementara, hasil konfirmasi pihak sekolah menyebutkan, duit anggaran BOS diterima itu tidak besar, hanya cukup untuk anggaran gajih sejumlah guru honorer. Sedangkan, secara keseluruhan sekitar 225 siswa dan guru honorer berjumlah sekitar 14 pendidik, tinggal dikalikan sekitar Rp800 ribu per siswa selama setahun, keterima bersih adanya sekitar Rp32 juta per tri wulan.

Di lain pihak, Kepala Sekolah MTs Babakancaringin, Ai Sri Mulyati menjelaskan, kalau soal keluhan listrik itu memang diakui. Sempat terputus tidak nyala karena belum bayar, tapi sekarang sudah dibayar selama tiga bulan terputus sekitar Rp300 ribu, bisa dipergunakan sebagaimana mestinya. Justru, sebaliknya pihak sekolah selalu menutupi kekurangan atau kendala ada di sekolah.

"Mengenai iuran kaos, justru pihak sekolah tertipu. Sebelumnya pesan kepada dua oknum wartawan sampai saat ini tidak tahu keberadaannya. Padahal sudah bayar di muka (DP) Rp3,5 juta, pesan sekitar 50 kaos. Janjinya itu katanya dua minggu selesai dikerjakan, hingga kini batang hidungnya tidak kelihatan lagi ke sekolah," terang, Ani.

"Dana BOS digunakan sudah sesuai dan dipergunakan sebagaimana mestinya, sebelumnya pernah memperbaiki rehab kecil-kecilan. Seperti halnya WC kini sudah sebulan sudah rusak kembali," tegasnya saat dihubungi, kemarin.

Soal, mebeler itu satu paket kursi dan meja. Kepsek menyambungkan, pesanan kursi dan mejanya juga belum dikirim ke sekolah mau bayar bagaimana. Pesannya pun hanya sekitar sepuluh kursi dan meja (satu paket), harganya seitar Rp300 ribu. Secara keseluruhan totalnya sekitar Rp3 juta, tapi kan belum beres masih dikerjakan pesanaannya.

"Perlu diketahui, ada hal kerusakan rehab kecil di sekolah itu selalu dibenahi. Katanya siapa tidak peduli itu bohong tuduhan yang diinformasikan kepada publik," tandasnya.(mat)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top