Misteri Kutukan Nomor '1'


PESTA rakyat pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 usai digelar, Rabu (15/2). Tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang bertarung untuk merebut DKI 1 yaitu pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang menempati nomor satu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat berada di nomor urut dua dan nomor buncit atau nomor urut tiga Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Namun, mencermati pilkada DKI semenjak era pemilihan langsung, ada misteri yang menghinggapi nomor urut Pilkada DKI.
Pertama di Pilkada 2007. Ada dua pasangan yang bertarung merebutkan kursi DKI-1. Petahana Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Prijanto melawan Adang Daradjatun–Dani Anwar.

Sempat terjadi 'kericuhan' ketika pengambilan nomor urut karena pasangan Adang–Dani yang dalam pengambilan nomor urut tidak hadir. Mereka memperoleh nomor satu, tapi diprotes kelompok Fauzi–Prijanto karena ketidakhadiran itu. Pendukung Foke–Prijanto meminta nomer urut satu diberikan oleh jagoan mereka karena sudah bersedia datang ke acara pengambilan nomor urut.

Bagi kebanyakan orang, nomor satu diidentikkan dengan kemenangan. Namun, apa yang terjadi ketika penghitungan suara disahkan oleh KPU DKI? Ternyata pasangan Adang Daradjatun dan Dani Anwar yang hanya diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera menelan kekalahan. Mereka hanya bisa mendulang suara sebanyak 1.535.555 (42,13 persen).  Lawannya, Fauzi Bowo dan Prijanto yang didukung koalisi gemuk meraih suara 2.109.511 (57,87 persen).

Kedua, di Pilkada 2012. Pilkada di masa itu diikuti oleh enam pasangan calon. Empat pasangan diusung oleh partai politik dan dua pasangan berasal darì calon independen. Sesuai dengan nomor urut, nomor satu adalah pasangan Fauzi Bowo (Foke)–Nachrowi Ramli (Nara), nomor urut 2 adalah jalur independen Hendarman Soepandji–Ahmad Riza Patria, nomor urut 3 adalah pasangan Joko Widodo (Jokowi)–Basuki Tjahaja Purnama (Ahok),  nomor urut 4 adalah pasangan Hidayat Nur Wahid – Didik J. Rachbini, nomor urut 5 dari jalur independen lagi, pasangan Faisal Batubara – Biem Trijani Benyamin, nomor urut 6 adalah pasangan Alex Noerdin dan Nono Sampono.

Kali ini giliran Foke-Nata yang bernasib sial. Di putaran pertama Foke-Nara boleh berbangga hati lantaran dari hasil poling mereka berada di urutan ke dua jumlah poling terbanyak di bawah Jokowi-Ahok. Di putaran kedua, Foke-Nara yang tetap menggunakan nomor urut satu tetap kalah dari pasangan Jokowi-Ahok.

Terakhir, di tahun ini pasangan nomor urut satu, Agus-Sylvi harus gigit jari lantaran mendapat hasil suara yang minim. Nyaris semua perhitungan suara menempatkan Agus-Sylvi di posisi buncit. Sejumlah opini publik terkait 'kutukan' nomor urut 1 kian bermunculan. Entah kebetulan atau menjadi malapetaka, namun fakta dan kenyataannya dalam tiga kali pesta demokrasi di DKI Jakarta, nomor urut 1 selalu menelan kekalahan. (*/yaz)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top