Siswi MTs Digilir Empat Siswa


CIBEBER- Kasus asusila terhadap gadis di bawah umur kembali terjadi di Kabupaten Cianjur. Kali ini gadis berusia 14 tahun dengan inisial DAP warga Kampung Cimenteng, RT02/06, Desa Salagedang, Kecamatan Cibeber, harus kehilangan kegadisannya.

DAP yang masih duduk dibangku tsanawiyah (SMP) di wilayah Kecamatan Cibeber, menjadi korban pemerkosaan secara bergiliran yang diduga dilakukan oleh empat siswa salah satu SMP di Cibeber dengan inisial UUP alias NP (15), CP (15), CL (15) dan UI (15).

Kronologis kejadian bermula ketika DAP dijemput untuk bermain oleh temannya berinisial UUP pada Kamis (12/01). Setelah itu DAP dibawa UUP ke sebuah rumah kosong di Kampung Cilangkap, Desa Salagedang.

Setibanya di rumah tersebut, DAP ditawari obat dalam bentuk pil berwarna putih, namun DAP menolaknya dan pergi keluar rumah. Selang beberapa menit kemudian DAP diminta masuk kembali ke dalam rumah dan diminta meminum kopi, dan beberapa menit kemudian DAP merasa pusing dan tidak sadarkan diri hingga ketiduran.

“Keesokan harinya DAP mengeluhkan pegel-pegel dan daerah kemaluannya terasa sakit. Setelah dibawa ke rumah sakit, dan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter bahwa vagina DAP terjadi kerusakan atau sobek,” terang Pengacara DAP, R. H. A. Mulyadi.

Mulyadi menjelaskan,  setelah ‎mendapat laporan dari ayah korban pada Sabtu (15/1) lalu, pihaknya langsung melaporkan tindakan pencabulan terhadap anak di bawah umur kepada pihak yang berwajib.

"Atas tindakannya,‎ ke empat pelaku bisa dijerat dengan Pasal 82 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun," jelasnya.

Ai Rohaeti (43) ibu kandung DAP menuturkan, menurut pengakuan anak saya, setelah disuruh meminum kopi beberapa menit kemudian anak saya tak sadarkan diri, dan diduga pada saat itulah anak saya diperkosa secara bergiliran karena pada saat masuk ke rumah kosong sudah ada beberapa pelajar lainnya.

“Saya menduga pemuda yang sudah ada di dalam rumah ikut melakukan pemerkosaan terhadap anak saya,” tuturnya.
Ai menambahkan, setelah para pelaku meninggalkan anak saya sendirian di dalam rumah kosong, ‎anak saya lantas meminta bantuan temannya melalui telepon . “Ya, meminta tolong bahwa anak saya disekap di dalam rumah kosong, sehingga terbongkar lah kasus ini," ungkapnya. (mat)



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top