Tidak Paham Aksara Sulit Kenali Bidak





Nyaris semua permainan tradisional saat ini menghadapi dilema yang sama. Tergerus zaman dan tidak lagi diminati banyak orang. Padahal, permainan tradisional mengandung banyak pelajaran yang bisa dipetik. Salah satunya xiangqi, catur dari Tiongkok.

DEBORA DANISA

BENTUK bidak-bidaknya sederhana. Kayu bulat besar dengan aksara Mandarin. Warna bidaknya serupa. Yang membedakan adalah warna huruf yang terukir di atasnya. Hitam dan merah.

Yang mahir membaca aksara tersebut pasti akan langsung paham artinya. Ada jiang dan shua, sang jenderal dari dua kubu yang berbeda. Jiang adalah jenderal hitam, sedangkan shua jenderal merah. Kemudian, ada she (perdana menteri atau pengawal pribadi sang jenderal) dua buah, letaknya di kanan dan kiri mengawal sang jenderal.

Masih ada enam aksara lagi. Prajurit terdepan bertulisan ping untuk kubu merah dan zhu untuk kubu hitam. Setiap kubu punya lima prajurit terdepan. Tepat di belakangnya ada meriam alias phao. Sebaris dengan jenderal dan penjaganya, ada xiang (gajah), ma (kuda), dan zhe (benteng).

Sekilas, xiangqi memang memiliki bidak-bidak yang perannya nyaris sama dengan catur. Bahkan, papan permainannya pun mirip. Bedanya satu, yakni gajahnya.

Dalam sejarah terciptanya xiangqi, gajah pun ikut berperang. Perannya sebagai tunggangan. ”Tapi, gajah tidak boleh menyerang,” ujar Effendy Gunawan, salah seorang pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Surabaya. Xiangqi pun secara harfiah memang berarti ”catur gajah”.

Selain itu, jumlah kotak di atas papan xiangqi lebih banyak daripada catur biasa. Jika catur memiliki delapan kali delapan kotak, xiangqi punya satu kotak lagi di tengah sehingga menjadi sembilan kali delapan kotak. Namun, bagian tengah sedikit lebih spesial. Tidak dipisahkan garis-garis pendek, kotak tengah menyambung dari ujung ke ujung. ”Ini adalah sungai, perbatasan yang memisahkan kedua pasukan,” lanjutnya.

Effendy yang akrab disapa Afen merupakan salah seorang pemain xiangqi senior yang ada di Jawa Timur. Jumlah pemain xiangqi yang terbilang mahir di Jatim kini tidak mencapai 100 orang. ”Jumlahnya sedikit sekali dan kebanyakan juga sudah senior seperti saya,” ungkap Afen.

Meski mirip catur, permainan xiangqi belum begitu populer di kalangan anak muda. Afen menuturkan, xiangqi lahir saat zaman perang antara dua dinasti, yakni Dinasti Han dan Dinasti Ju.

Penciptanya adalah jenderal dari pasukan Han, Han Xin. Meski agak sombong, menurut para petinggi dan pasukan saat itu, dia adalah orang cerdas. Terutama dalam strategi perang. Han Xin dikenal mahir dalam perang gerilya. Xiangqi awalnya dibuat menjadi hiburan bagi para tentara ketika sedang menganggur. Namun, karena mengandalkan otak, secara tidak langsung permainan itu membuat tentaranya semakin terlatih dalam menjalankan strategi. Secara tak langsung, xiangqi menjadi alat untuk menyusun strategi perang. ”Dulunya xiangqi ini hanya ada di kalangan tentara dan orang elite. Tapi, kemudian menyebar ke masyarakat luas,” tutur Chandra Wiyana, kawan Afen yang juga pemain xiangqi.

Cara bermain xiangqi pun mirip dengan catur umumnya. Jenderal dan pengawalnya tak boleh keluar dari ”istana”. Istana berada pada kisaran empat kotak di bagian tengah, lengkap dengan tanda silang-menyilang. Tanda itu merupakan jalur pergerakan bagi pengawal, sedangkan jiang dan shua hanya bisa bergerak lurus. Kemudian, xiang alias gajah juga bisa menjadi pelindung bagi jenderal, terutama ketika sudah terdesak. Agar tidak bisa dimakan lawan, she dan xiang harus berdiri di depan jenderal.

Pergerakan xiang terbatas. Bukan karena ia berbadan berat, tapi karena tak boleh melewati sungai perbatasan. Dalam peraturannya, xiang hanya boleh melompat silang dua kotak. Total ada tujuh titik yang bisa dipijaki gajah. Bagian itulah yang paling membedakan xiangqi dengan catur biasanya. Sisanya, hampir semua serupa.

Prajurit hanya bisa bergerak maju, tak boleh mundur, dan bisa memakan lawan secara diagonal. Benteng bisa bergerak sejauh mana pun, asalkan lurus. Meriam juga bisa melompat lurus, asalkan bukan melompati lawannya.

Afen dengan sabar menjelaskan satu per satu peran dan gerakan bidak xiangqi ketika ditemui Jawa Pos di Kafe Catur. Kafe yang baru buka dua minggu lalu itu memang menyediakan tempat khusus bagi para pencinta catur. Karena xiangqi mirip permainan kotak hitam putih itu, pemain xiangqi juga bebas datang ke sana. ”Bahkan, setelah ini akan dibuka kursus catur di sini,” terang Yualiati Yahya, sang pemilik kafe. Afen menambahkan, kalau ada yang mau belajar bermain xiangqi pun, dia akan menerima.

Menurut Afen, jika sudah punya dasar permainan catur, seseorang tak akan sulit belajar xiangqi. ”Apalagi yang sudah pintar main catur. Paling-paling seminggu atau dua minggu sudah lancar,” ungkapnya.

Di Tiongkok sendiri, permainan catur tersebut sudah sangat umum, malah lebih populer daripada catur pada umumnya. Bukan hanya yang sepuh-sepuh, anak-anak muda usia 20-an sudah jago memainkannya.

Xiangqi juga memiliki kejuaraan internasional sendiri. Pemenangnya, tentu saja, mayoritas datang dari Tiongkok. Candra mengakui, dalam permainan xiangqi,orang Tiongkok sudah sangat mumpuni. ”Peraturannya saja sudah beda antara kejuaraan di Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya,” ujarnya.

Jika di kejuaraan tingkat Asia, pemain yang melakukan satu kali kesalahan akan dimaklumi. Misalnya, ketika ma atau kuda tidak melangkah dengan bentuk L. Kuda boleh mundur ketika diingatkan. Namun, di kejuaraan RRT, tidak ada toleransi atau ampun. Peserta bakal langsung gugur. ”Karena ketat sekali itu, mereka lebih teliti,” sambungnya.

Sayang, kepopuleran xiangqi di negeri asal itu tidak menular ke kaum Tionghoa di Indonesia. Menurut Afen, faktor utama penyebab xiangqi kurang diminati adalah aksaranya yang sulit dibaca. Dibandingkan dengan catur yang ukiran bidaknya sudah jelas, pemain xiangqi perlu menghafalkan tulisan yang tertera di atas bidak bulatnya. Jika pemain tak hafal, salah-salah bidak gajah malah melangkah seperti kuda. ”Anak muda (Tionghoa) sekarang belum tentu bisa membaca huruf Tiongkok,” kata Afen.

Selain itu, pembinaan xiangqi juga minim. Afen sendiri sudah mengajarkan xiangqi di beberapa sekolah sebagai ekstrakurikuler. Setiap Sabtu dia sibuk mengajar anak-anak di Sekolah Xin Zhong, Sekolah Little Sun alias Xiao Tai Yang, dan SD Kristen Elyon. Namun, peminatnya tak begitu banyak.

Selain Afen, beberapa temannya mengajar di tiga sekolah tersebut. Mereka adalah Chau Kwok alias Djojo Kusnadi dan Xin Chuan. ”Yang ikut paling-paling 6 sampai 10 anak,” ujarnya. Anak-anak mudah bosan dan perhatiannya teralihkan oleh gawai (gadget).

Untuk melestarikan xiangqi, menurut Afen, harus ada intervensi dari pemerintah. ”Kalau bisa pemerintah terlibat. Mengadakan kejuaraan atau semacamnya,” katanya. Afen punya keinginan untuk bisa membina para pemain catur junior supaya juga menjajal xiangqi. Kendalanya, para pemain tersebut sudah sangat sibuk mengikuti turnamen catur di mana-mana. Namun, Afen tak ingin memaksakan agar xiangqi lebih diminati daripada catur. ”Masing-masing punya keunggulan sendiri,” katanya. (*/c10/git/sep/JPG)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top