Teh Arab Banyak Ditanam di Cianjur?


CIANJUR-Keberadaan teh arab atau lebih dikenal dengan tanaman khat diresahkan Dang Hendra (39) salah satu warga Cianjur.
Dang Hendra merasa khawatir teh arab dimanfaatkan sejumlah oknum tertentu dengan menjualnya sembarang.
"Harus sejak dini diberikan pemahaman dan sosialisasi oleh dinas terkait, terutama oleh BNN. Minimalnya bisa menekan atau mengurangi menyebaran teh khat mengandung narkotika," aku dia, saat dihubungi kepada Radar Cianjur.
Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Cianjur, Jawa Barat, mengawasi peredaran dan penanaman "teh arab", atau lebih dikenal dengan tanaman khat, yang mengandung narkoba sesuai dengan intruksi BNN di wilayah Cianjur utara.
Kepala BNNK Cianjur, Hendrik di Cianjur mengatakan, pihaknya mendapat instruksi dari Kepala BNN Budi Waseso, untuk memantau secara intensif kawasan Cipanas, Pacet dan Sukaresmi yang disinyalir digunakan sebagai tempat peredaran dan penanaman teh Arab.
Tanaman tersebut, mengandung zat katinon atau narkoba golongan 1 diduga mulai ditanam di Cianjur karena di wilayah lain seperti Bogor telah diberantas petugas. Wilayah tersebut masih banyak yang menanam teh Arab dan kemungkinan menyebar hingga ke kawasan Cianjur utara.
"Tanaman yang disebut teh Arab atau khat mulai dikenal sejak 2013, setelah peristiwa penggerebekan artis Rafi Ahmad, dimana hasil tes laboratorium, tanaman khat kuat mengandung katinon. Tanaman ini jika dikonsumsi lewat dari 48 jam maka masuk dalam narkotika Golongan III untuk katina," katanya.
Sementar itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) sedang memantau peredaran narkoba jenis baru di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. BNN terus mengendus keberadaan teh arab atau khat, tanaman yang mengandung zat katinon, atau narkoba golongan 1, di selatan Kabupaten Bogor.
"Masih banyak yang menanam "teh arab" di sana (Puncak),” ujar Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso kepada Radar Bogor saat hadir sebagai pembicara pertemuan pemred Jawa Pos Group di Hard Rock Hotel Bali, kemarin (12/4).
Mantan Kabareskrim Polri ini menambahkan, jika dulu pada kasus Rafi Ahmad belum jelas aturannya, sekarang sudah ada aturan jelas yang memuat sanksi pengguna dan pengedar khat. Karena itu BNN terus memantau wilayah Kabupaten Bogor yang diketahui tempat budidaya tanaman tersebut.
“Saat ini ditemukan 60 jenis narkoba baru dan akan terus berkembang. Baru 43 jenis yang sudah diatur dalam Permenkes no 2 tahun 2017," ujar mantan Kapolda Gorontalo ini.
Terkait dengan penemuan jenis baru yang belum ada aturannya, BNN akan mengirim ke laboratorium di luar negeri yang bisa meneliti. BNN, sedang berusaha untuk memiliki laboratorium yang canggih dan alat-alat yang super canggih untuk memberantas narkoba.
“Semua pihak harus prihatin karena narkoba sudah menyusup hingga ke murid TK. Bahkan di Kalteng, bayi sudah bisa terpapar narkoba. Bandar narkoba sedang meregenerasi pangsa pasarnya. Sehingga anak-anak dibuat kecanduan dengan berbagai bentuk. Mulai dari permen bahkan bisa jadi pisang goreng," papar alumni SMAN 2 Bogor ini.(mat/JPG)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top