Kaum Muda dan Terpelajar Rentan Dimasuki Ideologi Terorisme

CIPANAS - Wakil Sekretaris DPC PPP Kabupaten Cianjur, Jamiludin memohon kepada masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam konflik radikalisme karena hal itu akan merugikan bangsa ini.

Sebab memurutnya, saat ini paham radikal menyeret negara-negara berpenduduk Muslim ke dalam konflik kekerasan. Mereka ingin merekrut sebanyak mungkin anggota terutama dari negara-negara berkembang seperti Indonesia.

“Kekerasan yang dibawa dalam konflik paham radikal itu jangan dilawan lagi dengan kekerasan. Lawanlah dengan kebaikan," kata Jamil, di Yayasan Nahdotul ummah, Cipanas Selasa (15/5) kemarin.

Dikatakan Jamil, paham ekstrem yang diciptakan sebagai basis adalah konflik. Selain itu, harakah perlawanan pada ideologi Barat menjadi daya tarik bagi para pengikutnya.

Menurutnya, pemerintah masih memetakan pergerakan paham ekstrem. Mahasiswa dan generasi muda memang rentan menjadi sasaran penyebaran radikalisme dan terorisme.

"Setidaknya itu terlihat dari pelaku yang berhasil ditangkap densus 88, rata-rata usianya masih muda dan dari kaum terpelajar," ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, berd8asarkan pandangan sebagian masyarakat dunia, Islam yang mengajarkan kekerasan. Padahal Islam harus menjadi jalan keluar. Dialog antara perwakilan Barat dan Timur merupakan upaya untuk mencari jalan tengah.

“islam menawarkan multikultural, terutama islam nusantara, jangan karena hanya berpakaian kearab-araban lantas bahwa islam di pandang sebelah mata, islamulti kultur bukan hanya orang arab saja,” ucapnya.
(RC)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top